James Waskito selaku pendiri klub adalah atlet wushu Jawa Timur yang terdaftar sebagai anggota Sasana Senam Pagi Ambengan Plaza Surabaya. Meskipun berstatus atlet Surabaya, James berdomisili di Malang. James merupakan salah satu dari sekian atlet Jawa Timur dan atlet pertama dari Malang yang mendapat pelatihan dari Master Wang Dong Lian (sekitar 7 bulan) dan Master Lu Li (sekitar 4 bulan). Selain itu James juga mendalami salah satu nomor wushu yang terpopuler di dunia internasional, taiji quan, di bawah bimbingan Hadi Soewito, seorang pelatih senior tai ji quan di Surabaya. Hadi Soewito juga adalah salah satu deklarator berdirinya Pengurus Besar Wushu Indonesia dan Pengurus Daerah Wushu Jawa Timur, menjadi anggota Pengda WI Jatim selama 2 periode (selaku ketua harian kemudian bendahara), dan merupakan salah satu sesepuh Sasana Senam Pagi Ambengan Plaza. Bapak Hadi Soewito merupakan orang yang memberikan ide dan inspirasi pada James Waskito untuk mendirikan klub wushu di Malang, karena saat itu di Malang belum ada wadah pengembangan wushu di Malang.
Latihan bersama di pulau Sempu
© PW Tirta Samudra
Setelah melalui berbagai usaha persiapan yang tidak terlalu mudah, pada tanggal 29 Maret 1996, James Waskito dengan didukung oleh keluarganya mendirikan klub yang dinamai Perkumpulan Wushu Tirta Samudra (saat ini sudah berganti nama menjadi Pembinaan Wushu Tirta Samudra). Klub tersebut melaksanakan aktivitasnya di Jl TGP, di sebuah aula milik Bapak Jusuf Deli, yang saat itu memberi bantuan dengan peminjaman aula secara cuma-cuma. Saat berdiri, PW Tirta Samudra hanya terdiri dari 1 pelatih yaitu James dan angggota/peserta latihan berjumlah 13 orang. Beberapa orang dari ke-13 orang inilah yang di kemudian dikenal sebagai angkatan pertama tokoh-tokoh PW Tirta Samudra seperti Darius Adimargono, Adi Suryono, Rudy, Andre Ferianto dan lainnya. Saat itu James baru berusia 16 tahun, sedangkan anggota paling tua adalah Go Tek Oen (21 tahun) dan anggota seperti Rudy dan Andre baru berusia 11-13 tahun. Uang pangkal saat itu adalah sebesar Rp 25.000 sedangkan iuran bulanan sebesar Rp 10.000. Materi yang diajarkan baru ji ben gong (gerakan dasar) dan taolu (jurus wajib internasional). Ketiga jurus itu adalah chang quan, nan quan, dan tai ji quan.
Pada aktivitas keseharian, mulai dari membantu James memberi contoh gerakan, mengabsen kehadiran, hingga mengumpulkan iuran ditangani oleh beberapa orang yang disebut di atas. Saat proses latihan telah menghasilkan beberapa orang yang telah menguasai beberapa jurus, maka diangkat beberapa asisten untuk membantu James dalam melatih, seperti Agustinus Adrianto (nan quan) dan Steven Halim (chang quan). Tim inilah yang menjadi cikal bakal manajemen klub seperti saat ini.
Pemunculan pertama klub ini di depan publik adalah pada tanggal 27 April 1996 pada saat diminta mengisi acara eksebisi wushu dalam Peringatan Sewindu Keluarga Mahasiswa Buddhis Malang di Peacock Hall Hotel Kartika Prince (sekarang Hotel Kartika Graha), dihadapan sekitar 100 orang undangan. Pada pemunculan pertama ini, para asisten menampilkan kemampuan jurus secara penuh, bahkan James selaku pelatih juga turut menampilkan nomor jian shu, karena anggota yang layak ditampilkan sangat terbatas. Pada saat itu, untuk penampilan jurus penuh (bermain maksimal dan tanpa pemotongan gerakan), tim dari Tirta Samudra memperoleh penghargaan berupa plakat kenang-kenangan dan sekotak snack bagi tiap anggota tim, yang pada saat itu sudah sangat disyukuri (berbeda dengan pada tahun 2003, tim eksebisi Tirta Samudra sudah bernasib jauh lebih baik, dengan penghargaan berupa publik penonton yang banyak dan beragam, konsumsi yang sangat layak dan uang honorarium yang cukup besar). Karakteristik yang demikian kemudian yang membuat PW Tirta Samudra dikenal masyarakat Malang sebagai klub yang identik dengan klub anak-anak muda.
Sejak berdiri, PW Tirta Samudra merasa letak tempat latihan di Jl. TGP relatif kurang strategis bagi pengembangan klub, selain itu klub merasa bantuan dari Bapak Jusuf Deli bukanlah untuk disalahgunakan (enak-enak mumpung gratis). Akhirnya Bapak Sugiarto Widjaya, ayah dari James Waskito, mencoba menemui Pater Kelik Moersodo, O.Carm. (alm) selaku Romo Paroki Hati Kudus Yesus Malang, yang bertanggungjawab atas Gedung Katolik Sasono Budoyo Malang. Gedung ini lebih dikenal masyarakat Malang sebagai gedung KSB jalan gereja (Jln. Mgr. Sugiyopranoto), di balik Gereja Kayutangan. Ternyata hanya melalui sekali pertemuan, Bapak Sugiarto Widjaya berhasil memperoleh persetujuan untuk menyewa gedung KSB mulai 1 November 1996, bahkan Rm. Kelik sempat ikut serta dalam latihan tai ji quan.
Maka setelah mengucapkan terima kasih secara khusus pada Bapak Yusuf Deli, mulai 1 November 1996 aktivitas klub, yang anggotanya saat itu hanya berjumlah sekitar 15 orang, sepenuhnya dipindahkan ke Gedung KSB Jl. Mgr Sugiyopranoto (Jl. Gereja). Di tempat inilah Tirta Samudra mulai mengembangkan dirinya menjadi klub yang cukup berkualitas, diawali dengan masuknya anggota-anggota yang nantinya mewarnai perkembangan klub di mata masyarakat.
Setelah pindah ke Gedung KSB, PW Tirta Samudra dengan cepat dikenal masyarakat. Banyak anggota baru masuk, dan kemampuan para anggota berkembang cukup pesat. Pada awal 1997, bermunculan pula beberapa klub wushu di Malang, disusul dengan berdirinya Pengurus Cabang (pengcab) WI Malang. Tirta Samudra pun turut mendaftarkan diri ke dalam Pengcab sebagaimana yang diharuskan.
Untuk menangani aktivitas latihan, maka dibentuklah Badan Pekerja yang anggotanya dipilih dari peserta latihan yang memiliki kemampuan mengorganisir. Hal ini merangsang berkembangnya ide-ide kreatif dan kemampuan organisasi anggota. Pada awal tahun 1997, muncullah ide untuk mengadakan peringatan 1 tahun PW Tirta Samudra yang bertujuan utama memperkenalkan diri secara besar-besaran ke publik Malang dan Surabaya, serta untuk mempromosikan olahraga wushu ke masyarakat. Maka dengan dimotori oleh Darius Adimargono dan kawan-kawan, disusun rancangan acara peringatan tersebut, meliputi persiapan, proses penggalangan dana, rancangan pelaksanaan, hingga penyebaran undangan dan publikasi acara. Jadwal pelaksanaan acara sempat diundur beberapa kali karena pada tahun 1997 dilaksanakan Pemilihan Umum yang mana menimbulkan pergolakan disertai dengan beberapa kasus pembakaran gereja, kerusuhan dan pembantaian dan sebagainya. Akhirnya acara tersebut baru bisa diadakan tanggal 9 Agustus 1997, bertempat di Aula Panca Dharma Jl. Laks. Martadinata. Aula tersebut dipilih karena memiliki ruangan yang cukup sesuai untuk eksebisi wushu, dan dekat dengan restoran Nikmat Lezat selaku restoran yang dipilih sebagai penyedia hidangan. Acara ini mengundang seluruh anggota klub beserta keluarga, simpatisan-simpatisan, para alumni, pengurus Pengcab WI, dan rombongan khusus dari Sasana Senam Pagi Ambengan Plaza Surabaya.
Untuk pelaksanaan acara, panitia menyiapkan acara terdiri dari tiga bagian yaitu eksebisi wushu dari PW Tirta Samudra, eksebisi wushu dari Ambengan Plaza, dan acara-acara seni dari para simpatisan, dan penyampaian penghargaan khusus bagi para tokoh yang turut membantu perkembangan Tirta Samudra. Pada acara tersebut, Tirta Samudra menampilkan nomor dui quan untuk pertama kalinya, sebagai hasil dari pemberian materi due quan dan sanshou dalam aktivitas latihan klub. Sasana Senam Pagi Ambengan Plaza menurunkan atlet-atlet terbaiknya untuk turut memeriahkan acara. Sedang acara-acara seni lain adalah penabuhan tambur oleh seorang simpatisan klub, Bapak Ie Yong (sedang tamburnya merupakan tambur besar berdiameter hampir 1 meter yang dipinjam dari simpatisan klub dari Tuban, Bapak David Chandra). Acara lainnya adalah acara-acara tarian oleh simpatisan dari Surabaya dan Malang, dan nyanyian dari simpatisan-simpatisan klub (salah satunya lagu dari Caroline Gunawan, kakak dari salah seorang peserta latihan, yang saat ini dikenal sebagai salah satu artis yang cukup populer dengan nama Alena). Selain acara hiburan, diadakan pemberian penghargaan khusus, antara lain Bapak Hadi Soewito dikukuhkan sebagai Bapak Inspirator PW Tirta Samudra, serta pemberian penghargaan anggota paling disiplin kepada Rudy.
Acara ini memberikan efek yang cukup menggemparkan publik, karena pada malam pelaksanaan acara yang dihadiri 500 lebih undangan tersebut, terjadi kemacetan di sepanjang Jl Gatot Subroto dan Jl Laks. Martadinata karena membludaknya parkir. Meriahnya acara yang demikian tidak diduga panitia, sehingga karena begitu sibuknya, panitia baru bisa makan malam setelah acara selesai. Keseluruhan acara ini ditangani panitia yang masih berusia muda dan masih bersekolah semua (sehingga waktu untuk menyiapkan acara adalah sepulang sekolah). Personel panitia ini yang nantinya dikenal sebagai alumni-alumni istimewa (dengan kisah unik masing-masing) dari Tirta Samudra seperti Darius Adimargono, Adi Suryono (dikenal dengan kemampuan istimewa dalam mengambil gambar gerakan wushu pada momen yang tepat), Agustinus Adrianto, Steven Halim, Heru Marsianto, Erick Herianto, Daniel Gunawan, Jerry Prawiharjo (yang tahun berikutnya menjadi peraih medali perunggu pada Olimpiade Fisika Internasional), Christian Lisangan, Go Tek Oen, Dicky Susanto, Johnny Santoso, dan Glen Haslim. Selain itu melalui acara ini, mereka yang nantinya akan menjadi tim legendaris Tirta Samudra di bidang prestasi wushu baik di kejuaraan maupun eksebisi, serta kemampuan organisasi yang bagus, sudah mulai muncul. Mereka antara lain ialah Andre Ferryanto, Rudy, Gonty Christoper (Yongki), Saputro Kokasik, Christian Wahyudinata.
Setelah Perayaan 1 Tahun PW Tirta Samudra, respon masyarakat Malang terhadap Tirta Samudra meningkat sebagaimana diharapkan. Banyak peminat wushu mendaftarkan diri menjadi anggota, bahkan sekitar tahun 1998, rata-rata anggota yang berlatih setiap hari adalah 50 orang. Jumlah demikian merupakan kapasitas maksimal daya tampung Gedung KSB. Pada masa itu pula bermunculan bibit-bibit atlet berkualitas dalam jumlah yang banyak. Sayangnya justru pada tahun-tahun tersebut, jadwal pertandingan tingkat daerah dan nasional tidak teratur, sehingga jarang ada kesempatan bertanding. Sebagai antisipasi agar Tirta Samudra tetap dikenal publik Malang, maka klub ini mencoba aktif mengadakan eksebisi melalui acara-acara seperti pesta ulang tahun, pesta perkawinan, dan acara-acara sekolah. Kegiatan tersebut diadakan dengan kerjasama dengan pihak-pihak eksternal SMPK Kol. Santo Yusup dan SMUK Santo Albertus. Yang patut dicatat ialah bahwa sebagian besar pihak eksternal tersebut lebih dulu berinisiatif mengadakan kerjasama. Hal ini menunjukkan bahwa minat masyarakat Malang terhadap wushu saat itu ternyata cukup besar. Pada era ini, Badan Pekerja dibawah pimpinan Seputro Kokasik merupakan Badan Pekerja yang telah direstrukturisasi menjadi lembaga yang lebih tersistematis dan memiliki prosedur kerja yang lebih maju. Selain itu, pada era yang sama, pengurus klub mengadakan penertiban administrasi besar-besaran yang dilakukan oleh Ibu Njoo Lie Fong dibantu oleh Seputro Kokasik. Dimulainya kehadiran Tirta Samudra di dunia internet juga dipelopori Seputro dengan hadirnya website klub di http://come.to/ tsamudra.
Perubahan-perubahan yang diikuti penyesuaian sistem tersebut sangat mendukung perkembangan klub dalam menghasilkan atlet yang berpotensi. Hal ini terbukti dengan keikutsertaan Tirta Samudra dalam pertandingan untuk pertamakalinya, dalam Kejuaraan Daerah Wushu Jatim di Surabaya tahun 1998. Pada event tersebut, Tirta Samudra mengirim 11 atlet sebagai duta klub, namun belum berhasil memperoleh hasil yang memuaskan. Gelar yang diperoleh adalah gelar kehormatan yang diperoleh Agustinus Adrianto (nomor nan quan) dan Daniel Gunawan (nomor jian shu), dan gelar Juara Harapan I yang diperoleh Christian Wahyudinata (nomor qiang shu). Hasil ini memacu Tirta Samudra untuk berusaha lebih giat dalam meningkatkan prestasi.
Tahun berikutnya, 1999, diadakan kejurda di Jember. Kejurda ini cukup istimewa karena animo masyarakat Jatim terhadap wushu meningkat cukup tinggi sebagai implikasi dari kejurda Surabaya tahun 1998. Hal ini terbukti dari banyaknya pengurus cabang dari berbagai kota di Jatim yang mengirim kontingennya. Fakta lain yang menarik adalah pada nomor-nomor favorit seperti chang quan dan nan quan diikuti oleh sekitar 20-30 orang, suatu situasi yang biasanya tampak di event-event nasional seperti kejurnas. Fakta lain yang penting adalah bahwa Jatim merupakan propinsi peraih Juara Umum di Kejurnas saat itu, sehingga beberapa atlet yang bertanding dalam Kejurda Jember notabene merupakan pemegang gelar juara nasional. Situasi ini membuat kualitas persaingan dalam Kejurda Jember cukup baik, bahkan panitia pelaksan PON XV memilih Jember sebagai lokasi pertandingan cabang wushu dalam PON XV, sehingga Kejurda ini kemudian diproyeksikan sebagai persiapan untuk menghadapi PON tersebut. Tirta Samudra sendiri mengirim 8 orang atlet dalam event ini, dan memperoleh hasil yang cukup memuaskan. Hasil tersebut adalah keberhasilan Andre Ferryanto (medali perunggu nomor jian shu putra), Seputro Kokasik (medali perunggu nomor dao shu putra) Vonny Kartika (medali perak nomor jian shu putri dan medali perunggu nomor taiji quan putri), serta Christian Wahyudinata yang mengulang kesuksesannya di Kejurda Surabaya (juara harapan II nomor qiang shu). Sementara atlet-atlet yang lain cukup memuaskan dengan memperoleh posisi di 10 besar. Selain prestasi tersebut, kontingen dari TS juga merupakan klub asal Malang peraih gelar terbanyak, sementara Malang sendiri merupakan urutan kedua setelah Surabaya dalam perolehan medali kejurda Jember. Keberhasilan ini diikuti dengan tawaran dari pihak Jember untuk melakukan uji coba tanding dengan kontingen TS (buka kontingen Malang secara keseluruhan) di Malang. Tawaran ini merupakan suatu penghargaan karena berarti Jember mengakui kualitas Tirta Samudra (karena suatu uji coba tanding pasti dilakukan dengan mengajak kompetitor yang lebih baik kualitasnya). Sementara itu banyak pihak dari Surabaya dan kota-kota lain turut pula mengakui kualitas kontingen TS.
Dari publik Malang sendiri muncul sambutan-sambutan yang cukup menggembirakan dalam berbagai bentuk. Para atlet TS semakin sering mengisi acara dengan menampilkan kebolehan bermain wushu dalam berbagai event, mulai dari pesta ulang tahun dan pernikahan di restoran/hotel, perayaan di sekolah-sekolah, konser piano hingga pesta taman/garden party di Batu. Dalam setiap eksebisi tersebut, tim dari TS selalu menampilkan kreasi yang berbeda-beda setiap kali tampil, sehingga selalu cukup mendapat sambutan yang meriah. Bahkan SMUK St. Albertus pernah mengadakan kerjasama yang diikuti dengan pembentukan Gedung Malang - Aula St. Albertus sebagai training hall kedua setelah Gedung Malang – KSB. Namun gedung ini hanya bertahan selama 2 tahun karena dipandang tidak cukup efektif dan efisien, sedangkan peserta latihannya dilebur menjadi satu dengan Gedung Malang – KSB. Era ini yang mulai memunculkan nama-nama legendaris klub berikutnya seperti Ferry Gunawan, Johan Kristanto, Vonny Kartika dan Rico Yulianto. Tahap ini sangat dipengaruhi oleh peran penting Kepala Gedung KSB saat itu, Andrianto Rahardjo.
Salah satu implikasi menarik dari situasi di atas adalah popularitas Tirta Samudra yang diikuti popularitas personelnya. Hal ini diawali dengan pemunculan Tirta Samudra pertama kali di media massa Jawa Pos – Radar Malang melalui rubrik wawancara khusus seorang personelnya yaitu Seputro Kokasik. Popularitas Seputro ini kemudian diikuti dengan popularitas personel-personel yang lain. Fakta ini dibuktikan dengan sambutan meriah, bahkan terkadang agak histeris, terhadap penampilan personel TS dalam berbagai eksebisi. Popularitas klub yang didukung popularitas personal ini membuat penampilan tim TS bukan sekedar penampilan beladiri biasa, tapi sudah mirip penampilan selebritis. Pernah suatu kali, dalam penampilan di sebuah sekolah di mana terdapat penampilan cabang beladiri selain wushu, sambutan penonton jauh lebih meriah didapat TS daripada penampilan olahraga tersebut. Hal ini dikarenakan bahwa tiap personel TS yang tampil memiliki kelompok penggemar tersendiri. Inilah salah satu ciri khas era ini, yaitu bahwa personel-personel TS bukan lagi sekedar atlet kualifikasi Jatim, tetapi juga selebritis publik Malang.
Di samping prestasi-prestasi yang membanggakan, terdapat juga hal-hal yang kurang menyenangkan. Salah satunya terjadi di tahun 2000, dimana kontingen Tirta Samudra yang memiliki beberapa gelar 6 besar tingkat propinsi, ternyata tidak dilibatkan sedikitpun dalam Kejurnas maupun PON, tanpa penjelasan yang layak. Hal ini tentu sangat disayangkan. Kekecewaan lain yang terjadi pada tahun yang sama adalah tidak terlibatnya TS dalam even pertandingan tingkat Jatim di tahun 2000. Pada tahun tersebut, pengda WI Jatim dan Konida Jatim tidak mengadakan kejurda karena konsentrasi tenaga dan dana untuk pengadaan PON XV. Kemudian pengcab Surabaya berinisiatif mengadakan Invitasi Pertandingan Se Jawa – Bali yang diadakan di Surabaya. Tapi sayangnya, klub TS baru mengetahui sehari sebelum pertandingan melalui Koran Jawa Pos. Saat panitia penyelenggara dikonfirmasi tentang hal ini, pihak panitia menyatakan bahwa mereka tidak tahu harus mengirim ke mana proposal untuk TS. Jawaban ini sangat aneh karena bagaimana bisa proposal 2 kejurda sebelumnya selalu sampai, tapi kali ini tidak. Pihak klub dengan segera mengantisipasi dengan mengirim personel atletnya selaku peninjau pada pertandingan tersebut, yang ternyata hanya diikuti oleh atlet asal Surabaya saja dan tak satupun atlet non Surabaya yang turut serta.
Mulai tahun 2000, aktivitas pertandingan kembali menurun di Indonesia, termasuk di Jawa Timur (pembahasan khusus tentang ini dapat dibaca di artikel klub yang berjudul Pekembangan Wushu di Indonesia dan di Dunia). Implikasinya juga mengenai TS dengan stagnannya animo masyarakat Malang terhadap wushu, dan bahkan pelan-pelan menurun, sementara tantangan bagi dunia pembinaan olahraga semakin berat dengan makin dekatnya globalisasi 2003. Klub berkeyakinan bahwa apabila tidak dilakukan penyesuaian dengan sistem klub yang digunakan secara umum di dunia internasional, maka akan sulit bagi klub olahraga apapun untuk bertahan. Berdasar ini, pengurus klub mulai menerapkan Program TS 2003, yang terdiri dari 2 tahap, yaitu restrukturisasi organisasi dan manajemen (direncanakan tahun 2000-2003) lalu dilanjutkan reposisi operasional (direncanakan tahun 2003-2006). Tahap pertama adalah likuidasi bertahap Badan Pekerja melalui pembentukan pusat-pusat, untuk kemudian menjadi management board yang profesional, beserta perubahan peraturan, prosedur dan budaya organisasi yang sesuai dengan kondisi mutakhir. Pada tahun ini pula nama klub diubah menjadi Pembinaan Wushu Tirta Samudra, sebagai penekanan terhadap visi klub sebagai klub olahraga yang profesional dan terstruktur. Tahap kedua dilakukan dengan perubahan sistem operasi dengan diikuti pembangunan kesan baru sebagi klub profesional yang berperan penting dalam sektor pendidikan, olahraga prestasi, kesehatan masyarakat dan ekonomi secara bersamaan. Seperti yang diprediksikan, meskipun restrukturisasi berjalan lancar, sektor SDM klub cenderung melemah dalam periode ini, dengan semakin sulitnya merekrut calon anggota karena rendahnya animo masyarakat Malang untuk mengikuti latihan wushu (bukan animo menonton, kalau animo yang satu ini masih tetap tinggi!). Implikasinya jelas adalah terhambatnya kaderisasi. Peda era ini semakin sulit diperoleh atlet-atlet berkualitas karena jumlah peserta terlalu sedikit yang mengakibatkan kompetisi dalam meningkatkan kualitas diri masing-masing anggota kurang berjalan baik (tanpa kompetisi yang gencar, sulit diperoleh kemajuan pesat karena tak ada persaingan).
Tahun 2003, diharapkan merupakan tahun yang istimewa setelah tahun 2000-2001 dilalui dengan cukup berat. Tahap pertama TS 2003 yaitu restrukturisasi organisasi dan manajemen tercapai pada bulan Februari. Selain itu klub untuk pertama kalinya muncul di depan publik umum melalui eksebisi di atrium Plaza Araya (sebelumnya selalu di depan publik terbatas di mana masyarakat umum tidak selalu bisa menonton). Even ini diikuti dengan liputan khusus tentang Tirta Samudra di koran Jawa Pos Radar Malang.
Foto: Adi Suryono
Selain itu, pada tahun ini pula PB WI mencanangkan diberlakukannya kurikulum baru taolu standar internasional, dimana terdapat 10 jurus wajib, dan dari 7 jurus kurikulum lama hanya nan quan yang tetap digunakan. Dalam mengantisipasi hal itu, beberapa alumni TS yang juga merupakan atlet-atlet yang berperan banyak dalam sejarah TS yaitu Andre Feryanto, Rudy, Andrianto Rahardjo, dan Denny Pangat, berinisiatif menjadi konsultan bagi TS dalam mengikuti kurikulum baru tersebut, bekerjasama dengan Kepala Pelatih TS yang juga salah satu atlet andalan klub, Rico Yulianto.
Kesemua momen tersebut menjadi langkah awal bagi tahap kedua TS 2003 dengan reposisi operasional klub, antara lain perubahan sistem latihan, perubahan sistem operasional, serta perintisan kerjasama internasional. Akan tetapi hambatan berupa rendahnya animo masyarakat terhadap wushu yang berimplikasi terhadap kurangnya kuantitas dan kualitas dalam pengembangan anggota tetap merupakan tantangan utama yang harus dihadapi.
Program TS 2003 tahap pertama telah memenuhi target yang dicanangkan, yaitu penertiban sistem kerja sesuai dengan job description yang telah disusun. Akan tetapi ketertiban kerja tersebut tidak diikuti peningkatan konkret bagi klub. Bahkan permasalahan-permasalahan semakin bertambah. Kegiatan promosi telah disiapkan dengan baik oleh manajemen klub dengan menampilkan diri dalam kegiatan Cowboy Night Party di SMUK St. Albertus serta Acara Peringatan Proklamasi 17 Agustus 2003 di Plaza Araya. Kedua kegiatan eksebisi mendapat sambutan yang tidak sebagus eksebisi terdahulu. Klub mengadakan survai melalui telepon, dan didapat respon menarik, bahwa banyak yang menyatakan mulai bosan dengan pertunjukkan wushu (bahkan ada kejadian menarik lain yaitu ada permintaan agar Tirta Samudra bersedia mengisi acara imlek 2004 di Plaza Araya, tetapi kalau bisa jangan atraksi wushu melainkan atraksi Dewa Uang dan sebagainya). Klub tidak serta-merta mempercayai respon masyarakat tersebut, melainkan melakukan observasi ke dalam internal klub dahulu.
Hasil observasi internal menunjukkan bahwa terjadi penurunan motivasi pada para anggota, sehingga banyak yang mengundurkan diri. Bahkan beberapa asisten pun mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Peristiwa ini memperparah krisis SDM yang telah ada. Selain itu ada buntut lebih besar, yaitu sepanjang 2003, setiap bulan klub mengalami defisit keuangan. Hal ini disebabkan bahwa sepanjang 2003, jumlah anggota baru yang masuk dibawah 10 orang, sementara banyak yang pula yang mengundurkan diri. Bahkan pada setengah tahun terakhir 2003, rata-rata kehadiran anggota setiap latihan adalah sekitar 10 orang. Lebih parah lagi, 70% anggota yang masih berlatih adalah penerima subsidi. Sementara pengeluaran rutin berupa tunjangan tim pelatih, biaya sewa gedung (KSB berkapasitas 50 orang), biaya operasional klub harus tetap berjalan. Situasi ini mengakibatkan ekonomi klub menjadi tidak sehat dan produktivitas klub sangat rendah. Tampilnya klub dalam artikel khusus di Jawa Pos Radar Malang ternyata juga tidak berhasil mendongkrak animo masyarakat Malang untuk bergabung dan berlatih wushu.
Akan tetapi hal menarik yang terjadi adalah majunya perkembangan website klub, di mana pengunjung website tersebut mencapai ribuan orang, dan anehnya lagi, sebagian besar justru dari luar negeri. Website ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Anomali yang terjadi adalah, kesan kita di antara para peminat wushu dan beladiri dari berbagai penjuru makin meningkat, tetapi kesan klub di mata publik Malang makin menurun.
Keadaan klub yang genting, ternyata memancing respon bermacam-macam dari anggota, orangtua peserta serta alumni. Sangat menarik, bahwa beberapa dari mereka kemudian menyatakan bahwa mereka bosan berlatih wushu dan lebih baik melakukan kegiatan lain. Alasannya sederhana, yaitu harus mempelajari dari awal materi baru yang lebih sulit, padahal mereka telah berlatih materi yang lama dalam kurun waktu yang lama pula. Selain itu mereka melihat bahwa pamor wushu makin redup dengan jarangnya wushu dimuat di media serta tidak jelasnya agenda kompetisi. Hal ini diperkuat dengan kesibukan rutin mereka untuk sekolah, kuliah atau bekerja, yang menurut mereka tidaklah sepadan untuk dikorbankan demi berlatih wushu yang tidak jelas masa depannya. Sangat mengejutkan, bahwa ternyata respon inilah yang muncul dari sebagian besar anggota yang memilih mengundurkan diri. Bahkan, keberadaan beberapa alumni yang menjadi konsultan dalam mempelajari materi baru, tetap tidak mampu mempertahankan motivasi mereka.
Situasi yang makin genting tersebut membuat Direksi memutuskan mempercepat pelaksanaan tahap kedua TS 2003 dengan reposisi operasional klub, antara lain perubahan sistem latihan, perubahan sistem operasional, serta perintisan kerjasama internasional. Langkah pertama adalah perubahan sistem latihan dan operasional klub, yaitu dengan menutup Gedung Malang-KSB dan merubahnya menjadi Tirta Samudra Exclusive Club (TSEC), serta menjadikan website klub sebagai departemen tersendiri yang sejajar dengan TSEC. Departemen website ini disebut Tirta Samudra Interactive Website, dan akan menjadi website professional dalam pengembangan wushu dan aktif dalam jaringan wushu serta olahraga beladiri internasional. TSEC sendiri merupakan bentuk latihan yang berbeda dari bentuk latihan sebelumnya. Latihan ini hanya beranggotakan peminat wushu yang sungguh-sungguh dan bersedia mengembangkan wushu secara menyeluruh. Prioritas TSEC bukan lagi prestasi kejuaraan yang tidak menentu, tapi terlebih dari itu ialah mempromosikan wushu ke masyarakat sebagai olahraga beladiri. Dalam TSEC tidak dikenal keberadaan instruktur, karena karena para member bisa belajar pada satu sama lain. Yang dapat dipelajari antar member adalah kelebihan masing-masing, baik itu pada gerakan-gerakan terpisah ataupun taolu, teknik duiquan dan sanshou, kelenturan dan kesehatan atau bahkan pengetahuan teoritis tentang wushu. Pertemuan diadakan paling sering 2 minggu sekali pada akhir minggu, dengan acara yang variatif dan proses yang efektif dan efisien. Pemilihan waktu ini memberikan kesempatan bagi apara alumni yang memerlukan wadah latihan, serta membiasakan agar para member mengefektifkan waktu yang terbatas dengan biasa berlatih sendiri di rumah. Tempat untuk latihan berpindah-pindah dengan mengambil berbagai tempat yang menyenangkan dan rekreatif di Malang, Batu dan Surabaya. Perubahan ini membuat efisiensi klub makin tinggi, sementara motivasi berlatih meningkat sehingga proses latihan menjadi efektif. Selain itu, perubahan ini merupakan pemurnian kembali tujuan klub waktu didirikan, yaitu menjadi klub yang mengembangkan wushu, setelah selama beberapa tahun terakhir terlalu memprioritaskan pada upaya memproduk atlet untuk kejuaraan yang tidak jelas. Inilah kelahiran kembali Tirta Samudra.
© P.W. Tirta Samudra
Design: Lukman Hakim