Penulis: James Waskita S.
Ditulis pada tahun 2003
Perkembangan wushu di Indonesia sebagai olahraga, dengan nomor dan materi yang telah distandardisasi secara internasional, ditandai dengan berdirinya Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI) di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada tahun 1992. Pengurus PBWI pertama diketuai oleh Mayjen (purn) IGK Manila. Pada kepengurusan pertama sekitar 4 tahun tersebut, wushu berkembang pesat dengan dibentuknya Pengurus Daerah Wushu di lebih kurang 20 propinsi. Pada era tersebut, jumlah atlet wushu berkembang pesat, sehingga dalam setahun terdapat 2 even pertandingan nasional yaitu Sirkuit Nasional dan Kejuaraan Nasional, sedangkan di tiap daerah diadakan kejurda yang cukup banyak pesertanya. Penulis masih ingat saat mengikuti Sirkuit dan Kejurnas, gedung olahraga yang dipakai selalu dipenuhi penonton yang membludak dan liputan dari berbagai media massa. Saat itu, kontingen atlet yang datang dari berbagai propinsi dari seluruh Jawa, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan hingga Sulawesi, bahkan ada wushuwan yang berasal dari Irian/Papua (penulis tidak ingat apakah dia bertanding atas nama Papua atau propinsi lain, karena saat itu setahu penulis belum ada Pengda WI di Papua). Saat itu ketika penulis turun bertanding di nomor yang populer seperti Nan Quan di kejurnas atau sirkuit, atlet yang bertanding pada nomor tersebut mencapai 30 orang yang berasal dari berbagai propinsi, sedangkan keseluruhan atlet peserta kejurnas pernah mencapai sekitar 1000 orang. Mengingat bahwa mereka merupakan hasil seleksi kejurda dari propinsi masing-masing, bisa diperkirakan berapa banyak wushuwan di daerah masing-masing dan prakiraan jumlah wushuwan di seluruh Indonesia. Tirta Samudra merupakan satu dari ratusan klub wushu di Indonesia yang terbentuk di era awal wushu di Indonesia.
© P.W. Tirta Samudra
Design: Lukman Hakim